NAVIGASIINDONESIA .COM , MAMASA – Sebuah foto lama yang mengabadikan sosok Pdt. Yusuf Tupalangi saat mengikuti kebaktian hari Minggu di Gereja Beatrix atau yang dikenal masyarakat sebagai Gereja Batu, Mamasa, menyimpan cerita menarik tentang kehidupan bergereja di daerah tersebut lebih dari tiga dekade lalu.
Dalam foto itu, Pdt. Yusuf Tupalangi terlihat berada dalam suasana kebaktian. Namun, bukan hanya gambar dan suasana ibadah yang menarik perhatian. Di bagian belakang tampak sebuah papan liturgi yang mencantumkan daftar tata ibadah yang digunakan pada masa itu.
Yang menjadi detail penting dalam foto tersebut adalah keterangan waktu yang tertulis di papan liturgi, yakni: “Mamasa, 12-9-1993.” Informasi sederhana itu menjadi bagian yang sangat berharga dalam dokumentasi sejarah lokal.
Melalui tulisan tersebut, waktu pengambilan foto dapat diketahui dengan jelas, yakni pada 12 September 1993, lebih dari 30 tahun yang lalu.
Foto ini tidak sekadar menjadi dokumentasi pribadi, tetapi juga dapat menjadi potongan kecil dari rekam jejak kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Mamasa pada era 1990-an.
Susunan liturgi, suasana tempat ibadah, hingga cara penulisan pada papan liturgi menjadi gambaran sederhana mengenai bagaimana kegiatan peribadatan berlangsung pada masa tersebut.
Di tengah perkembangan zaman dan perubahan berbagai bentuk dokumentasi, foto lama seperti ini memiliki nilai tersendiri.
Sebuah gambar yang mungkin dahulu dianggap biasa, kini dapat menjadi pengingat tentang perjalanan waktu sekaligus menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Mamasa.
Gereja Beatrix atau Gereja Batu sendiri menjadi salah satu tempat yang memiliki nilai historis bagi kehidupan bergereja di Mamasa.
Dokumentasi seperti foto-foto tersebut turut memuat bahwa perjalanan kehidupan keagamaan masyarakat tidak hanya dicatat melalui tulisan dan arsip resmi, tetapi juga melalui foto-foto yang tersimpan dari generasi ke generasi.
“Mamasa, 12-9-1993”—sebuah catatan singkat di papan liturgi yang kini menjadi penanda waktu, mengajak kita kembali melihat suasana kehidupan bergereja di Mamasa lebih dari tiga dekade silam. (MR)